MAKALAH
ILMU ALAMIAH DASAR
“PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA”
Disusun Oleh :
Ruminta Indah Angelita
I1B118045
Dosen Pengampu :
Minarni, S.Pd., M.Si
PRODI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019
A. SIFAT UNIK MANUSIA
Manusia sebagai makhluk hidup memiliki kemiripan baik secara morfologis
maupun anatomis termasuk mekanisme organis yang secara signifikan memiliki
kesamaan proses biologis. Tetapi dibanding makhluk lainnya, manusia memiliki
keunikan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya, seperti rasa ingin tahu yang
mengalami perkembangan yang signifikan yaitu apa yang disebut dengan daya pikir.
Begitu juga, rohani manusia yang sangat kuat dengan daya pikir nya dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kedua alat itu, manusia
dapat menguasai dan mengungguli makhluk lain.
Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai ciri – ciri :
1. Memiliki organ tubuh yang kompleks dan sangat khusus terutama otaknya
2. Mengadakan pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan keluar
3. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar
4. Memiliki potensi berkembang biak
5. Tumbuh dan berkembang
6. Berinteraksi dengan lingkungan
7. Bergerak, dan
8. Mati
Kesimpulannya, manusia bila dibandingkan dengan makhluk lainnya seperti
hewan, maka tubuh manusa yang lebih lemah. Tetapi, rohaninya yaitu daya pikir
dan kemauannya sangat kuat sehingga dapat mengendalikan tubuh jasmaninya.
B. RASA INGIN TAHU
Manusia sebagai makhluk berpikir diberikan hasrat ingin tahu, tentang
benda dan peristiwa yang terjadi disekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang
dirinya sendiri. Rasa ingin tahu ini mendorong manusia untuk memahami dan
memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan pengetahuan yang
didapatnya.
Pengetahuan yang terkumpul semakin banyak, disebabkan karena rasa ingin
tahu dari manusia semakin berkembang, juga dengan daya pikirnya. Rasa ingin
tahu manusia tidak pernah terpuaskan. Apabila suatu masalah dapat dipecahkan,
pasti akan timbul masalah baru yang menunggu pemecahannya. Kegiatan manusia ini
kadang – kadang kurang serasi dengan tujuannya sehingga dapat menghasilkan
pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus asa, bahkan
seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala – nyala untuk
memecahkan persoalan. Dengan semangat yang semakin menyala – nyala ini
diadakanlah kegiatan – kegiatan lain yang dianggap lebih serasi dan dapat
diharapkan akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan. Kegiatan untuk
mencari pemecahan dapat berupa :
1. Penyelidikan langsung
2. Penggalian hasil – hasil penyelidikan yang sudah pernah diperoleh orang lain
3. Kerjasama dengan penyelidikan – penyelidikan lain yang juga sedang
memecahkan masalah yang sama atau yang sejenisnya.
Jadi, rasa ingin tahu manusia pada tiap saat belum tentu sama kuat,
demikian pula kelompok fenomen yang menimbulkan rasa ingin tahu biasanya
berbeda – beda dan dapat berubah – ubah menurut keadaan. Karena, tidak mungkin
setiap individu mempunyai rasa ingin tahu yang sama terhadap segala fenomena
yang terjadi.
C. PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA
1. Perkembangan alam pikiran manusia sejak zaman purba hingga dewasa ini.
Sejak zaman Purba untuk
memecahkan setaip masalah yang timbul, mereka mencoba membuat jawaban sendiri. Dengan
demikian daya pikir manusia Purba ini mulai berkembang. Perkembangan ini
berlangsung terus sampai sekarang dan akan berlanjut dimasa mendatang.
2. Perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir
hayarnya.
Perkembangan alam pikiran manusia
juga dapat ditelusuri sejak manusia itu lahir hingga dewasa dan tua. Perkembangan
alam pikiran dapat juga disebabkan oleh rangsangan dari luar, tanpa dorongandari dalam yang berupa rasa
ingin tahu. Sebab ekstern semacm itu memang dapat menimbulkan perkembangan alam
pikiran manusia, tetapi hasil itu biasanya tidak mendalam dan tidak tahan lama.
Tidak seperti perkembangan yang disebabkan oleh rasa ingin tahu. Jadi, alam
pikiran manusia berkembang terutama karena ada dorongan dari dalam , yaitu rasa
ingin tahu.
D. MITOS, PENALARAN, DAN BERBAGAI CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Pengetahuan – pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itu kita
sebut dengan “mitos”. Adapun cerita yang berdasarkan atas mitos ini disebut “legenda”.
Mitos ini timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indra manusia,
misalnya :
1. Alat Penglihatan
Banyak benda – benda yang
bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tak dapat membedakan
10 gambar yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam satu detik. Jika ukuran
partikel terlalu kecil, demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh,
maka mata tak mampu melihatnya.
2. Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada
getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran dibawah
30 atau diatas 30 perdetik tak terdengar.
3. Alat Penciuman dan Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat
memastikan benda yang dikecap maupun diciumnya. Manusia hanya bisa membedakan 4
jenis rasa yaitu rasa manis, asin, asam, dan pahit. Bau seperti parfum dan bau
lainnya bila konsentrasinya diudara lebih dari sepersepuluh juta bagian masih
dapat dikenal oleh hidung. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda
dengan benda yang lain, namun tidak semua orang bisa melakukannya.
4. Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas
dingin namun sangat relatif, sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi
yang tepat.
Alat – alat indra tersebut diatas sangat berbeda – beda diantara manusia, ada yang tajam penglihatannya ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indra kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan mungkin salah pemikiran. Untuk meningkatkan ketetapan alat indra tersebut dapat juga dilatih namun tetap sangat terbatas. Usaha – usaha lain adalah penciptaan alat, meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan tersebut.
Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena :
Alat – alat indra tersebut diatas sangat berbeda – beda diantara manusia, ada yang tajam penglihatannya ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indra kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan mungkin salah pemikiran. Untuk meningkatkan ketetapan alat indra tersebut dapat juga dilatih namun tetap sangat terbatas. Usaha – usaha lain adalah penciptaan alat, meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan tersebut.
Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena :
1. Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan pengindraan
baik langsung maupun dengan alat
2. Keterbatasan penularan manusia pada masa itu
3. Hasrat ingin tahunya terpenuhi
SUMBER REFERENSI
Buku :
1. Bakar, Abu; Fuldiarahman. 2010. Ilmu Alamiah Dasar. Jambi : FKIP
Universitas Jambi.
2. Jasin, Maskoeri, 2016. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : PT. RajaGrafindo
Persada.
CATATAN :
Dengan adanya pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar dapat menambahkan wawasan untuk kita, termasuk juga dengan materi tentang perkembangan alam pikiran manusia. Kita dapat mengetahui bagaimana sifat unik manusia, kemudian apa yang dimaksud dengan sifat rasa ingin tahu itu, dan juga dapat mempelajari tentang mitos yang sering disebut oleh masyarakat sekitar kita. Karena, semakin berkembangnya daya pikir manusia semakin banyak juga pengetahuan yang didapatkannya.
Dengan adanya pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar dapat menambahkan wawasan untuk kita, termasuk juga dengan materi tentang perkembangan alam pikiran manusia. Kita dapat mengetahui bagaimana sifat unik manusia, kemudian apa yang dimaksud dengan sifat rasa ingin tahu itu, dan juga dapat mempelajari tentang mitos yang sering disebut oleh masyarakat sekitar kita. Karena, semakin berkembangnya daya pikir manusia semakin banyak juga pengetahuan yang didapatkannya.
Dalam mempelajari
Ilmu Alamiah Dasar ini juga dapat membantu kita untuk lebih aktif dalam suatu
diskusi maupun membantu kita lebih percaya diri untuk mengungkapkan sebuah
pendapat. Serta dapat membantu kita mengembangkan tingkat pembelajaran kita
yang biasanya diambil dari studi kasus yang didapatkannya.